Perbedaan Selaput Dara Yang Rusak Akibat Kecelakaan dan Berhubungan Seks

Hingga saat ini keperawanan masih menjadi salah satu hal yang penting bagi wanita di negara-negara timur, salah satunya adalah Indonesia. Sebenarnya, perawan dan tidaknya seorang wanita tidak dapat diidentifikasikan secara fisik. Sejatinya, tidak ada perbedaan secara fisik ketika seorang wanita masih perawan maupun sudah tidak perawan.

Kebanyakan orang beranggapan bahwa ciri-ciri keperawanan seorang wanita dapat dilihat dari selaput daranya. Sejauh ini masih ada orang yang beranggapan bahwa robek atau rusaknya selaput dara pada wanita merupakan salah satu ciri-ciri ketidak perawanan. Lantas jika demikian yang terjadi, apakah mereka wanita yang belum bersuami dan mengalami kerusakan pada selaput daranya juga merupakan salah seorang wanita yang sudah tidak perawan?

Pada umumnya, ada beberapa alasan yang pada akhirnya bisa membuat selaput dara rusak meskipun belum pernah melakukan hubungan seks sama sekali. Jadi kesimpulan tentang rusaknya selaput dara pada wanita yang belum menikah tidak sepenuhnya diartikan bahwa wanita tersebut tidak perawan, karena terdapat beberapa alasan tentang mengapa kondisi selaput daranya rusak. Lalu bagaimana cara membedakan selaput dara yang rusak akibat kecelakaan dengan hubungan seks?

Perlu Anda ketahui bahwa selaput dara yang selama ini dimiliki oleh wanita merupakan jaringan yang tipis, dimana jaringan ini berfungsi menghambat benda-benda asing untuk masuk ke dalam vagina dan tentu saja jaringan tersebut bisa pecah akibat hubungan seksual ataupun karena hal lain. Ada satu hal penting yang perlu Anda garis bawahi yaitu wanita yang masih perawan juga beresiko mengalami kerusakan pada selaput daranya akibat aktivitas kesehariannya atau karena kecelakaan.

“Jika selaput dara rusak hingga kerusakannya sampai ke dasar, maka kerusakan tersebut dapat dipastikan akibat aktivitas hubungan seksual. Namun jika kerusakan selaput dara yang terjadi diakibatkan karena adanya kecelakaan, maka kerusakan selaput dara tersebut bergantung dengan kondisi kecelakaan yang dialami”, kata DR Muharam, SpOG(K).

Pernyataan yang hampir senada juga dilontarkan oleh ahli seksologi yaitu Dr Andri Wanananda. Ini beranggapan bahwa kerusakan selaput dara yang terjadi pada kebanyakan wanita yang belum bersuami disebabkan oleh aktivitas kesehariannya, seperti berolahraga. Adapun juga kecelakaan yang dialami juga berpotensi akan merusak selaput daranya, baik kecelakaan karena terjatuh atau karena kecelakaan lainnya yang pada akhirnya menyebabkan iritasi sehingga selaput dara rusak.

Menurut pada ahli beberapa jenis olahraga dan latihan tertentu berpotensi bisa merusak selaput dara. Oleh karenanya setiap wanita harus bisa selalu berhati-hati dengan aktivitas yang dilakukannya, terlebih bagi wanita yang memfavoritkan sepeda sebagai olahraga kesenangannya. Mengapa? Karena pada saat bersepeda otot panggul akan renggang dan tekanan pada sadel bisa berpotensi merusak selaput dara.

Terdapat perbedaan bentuk dan derajat elastisitas pada selaput dara yang dimiliki oleh setiap wanita. Tentunya kondisi ini juga berpengaruh terhadap mudah dan tidaknya selaput dara untuk rusak.

Hal ini juga didukung oleh pernyataan yang telah dikeluarkan oleh Dr Andri Wanananda MS, “Mudah dan tidaknya selaput dara untuk rusak tergantung pada elastisitas selaput dara tersebut. Jika selaput dara tidak elastis, maka sudah pasti selaput dara tersebut mudah rusak. Dan kondisi sebaliknya, pada selaput dara yang elastis, kondisi ini menyulitkannya untuk rusak”.

Sejatinya, selaput dara memiliki bentuk dan derajat elastisitas yang berbeda-beda. Tidak semua wanita memiliki tingkat elastisitas yang baik pada selaput daranya. Bahkan terdapat kasus dimana ada seorang wanita yang terlahir tanpa memiliki selaput dara sama sekali.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan, dimana hasil penelitian tersebut telah dimuat didalam buku The Human Sexuality, terdapat beberapa bentuk selaput dara yang berbeda, dimana kondisi ini yang sering kali mempengaruhi tingginya tingkat kerusakan pada selaput dara hingga seorang wanita dinyatakan tidak perawan.

  1. Annual hymen - Bentuk selaput dara ini memiliki ciri-ciri melingkar penuh pada lubang vagina dan terdapat lubang kecil ditengahnya yang mana lubang tersebut memungkinkan darah untuk keluar pada saat wanita mengalami menstruasi.
  2. Cibriform hymen - Cabriform hymen merupakan bentuk selaput dara yang mana bentuk selaput dara ini memiliki ciri-ciri berupa beberapa lubang yang terbuka dan lubang tersebut berukuran lebih kecil namun memiliki jumlah yang lebih banyak.
  3. Introitus - Tingkat elastisitas bentuk selaput dara ini cukup kuat, sehingga mereka yang memiliki bentuk sepalut dara seperti ini akan menyisakan jaringan selaput dara pada vaginanya meskipun sudah pernah berhubungan seksual.
  4. Septate hymen - Bentuk selaput dara ini mungkin akan menjadi masalah pada wanita ketika ia mengenakan pembalut pada saat menstruasi. Pasalnya bentuk selaput dara ini memiliki dua lubang vagina kecil dengan sebuah jaringan ekstra ditengah menyebabkan adanya dua lubang tersebut.

Dalam menjalani kehidupan seksual bersama pasangan, tidak seharusnya sebagai pihak pria Anda dengan sengaja melontarkan pertanyaan tentang keperawanan wanita. Pasalnya, wanita sangat sensitif dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bahayanya, gairah seks wanita akan hilang ketika emosionalnya terganggu akibat pertanyaan-pertanyaan yang Anda lontarkan.