Seks yang Sehat

Penafsiran tiap orang tentang seks tentu akan mempengaruhi sikap, prilaku dan kepribadiannya. Dari penafsirannya itu akan terlihat bagaimana seseorang memiliki aktivitas seks sehat atau sebaliknya. Apabila penafsiran tentang seks keliru tentu berakibat pada perilaku yang cenderung keliru dan akab berakibat masalah yang akhirnya berdampak pada keharmonisan rumah tangga.

Seseorang yang menjalin cinta asmara dan berujung pada pernikahan haruslah memiliki penafsiran tentang seks yang benar. Hal ini harus dikomunikasikan dengan pasangan Anda agar kebutuhan seksual Anda berjalan dengan lancar. Tapi dalam kehidupan berumahtangga jangan sampai suami istri hanya berorientasi pada fokus tentang seks. Tetapi harus diorientasikan pada kapan,bagaimana dan bagaimana melakukannya. Artinya kapan waktu yang tepat, tekniknya harus berfariasi, posisi juga berfariasi, tempat jangan monoton di dalam rumah ajak sesekali ke hotel puncak dan frekuensi hubungan seks Anda.

Jika frekuensi cuma 1-2 kali dalam seminggu itu perlu dibicarakan terlebih dahulu pada pasangan Anda agar tidak ada kekhawatiran dan salah persepsi jangan-jangan merasa tak puas dan sebagainya. Akibatnya, gairah seksual menjadi beban dan menjadi tak sehat.

Pola Kehidupan Seks yang Sehat

Jika ingin memiliki kehidupan seks yang sehat, maka persepsinya harus diperbaiki dulu sebelum memasuki pernikahan. Bagaimana sebenarnya pola kehidupan seks yang sehat? Berikut informasikan sehat untuk Anda.

Adanya kebersamaan

Meskipun seks penting dalam pernikahan, namun bukanlah terpenting. Yang paling penting adalah kebersamaan, yaitu cinta kasih sayang yang mengenal rasa hormat pada pasangan, semangat berkorban atau mementingkan pasangan, kewajiban dan bukan cuma hak, serta semangat menjauhkan kekuasaan.

Kehidupan seks yang sehat harus didasarkan rasa menghargai harkat dan martabat seseorang, serta tidak ada paksaan baik dalam frekuensi, teknik, maupun posisi. Misalnya, istri tak mau teknik “main belakang”, ya, suami jangan memaksa. Atau jika salah satu tak bisa berhubungan, maka yang lain harus bisa menahan diri.

Dengan demikian, bila satu pihak sulit untuk melakukan hubungan atau tak mampu, maka pihak yang lain tak lantas “main gila” dengan orang lain. Karena bagi pihak yang lain ini, seks bukanlah yang terpenting, melainkan keberadaan pasangannya. Lain halnya jika seks menjadi hal yang paling penting dalam perkawinan mereka, Maka dengan ketidakmampuan di salah satu pihak akan membuat pihak yang lain mudah sekali untuk menyeleweng. Sebab, persepsinya mengenai kebersamaan tidak ada.

Bangun komunikasi

Komunikasi diantara suami istri harus selalu terjalin dan lancar, termasuk komunikasi seksual. Sehingga, bila salah satu pihak mempunyai persepsi yang keliru, maka bisa diluruskan. Misalnya, suami menganggap dalam hubungan seks itu istri harus melayani suami. “Ini, kan, berarti suami adalah ‘bos’, hubungannya hirarkis.” Nah, persepsi suami yang demikian harus diluruskan oleh istri. Hubungan pernikahan itu harus horisontal, bukan vertikal, harus ada penyetaraan, dan saling menghargai. Pembagian tugas memang ada tapi bukan pembagian kekuasaan.

Apabila komunikasi yang dibangun lancar, kehidupan seks pun akan terjalin sehat dan menggairahkan. Tanpa komunikasi, mustahil akan tercipta seks yang sehat dan harmonis justru akan menambah gangguan seksual Anda. Perbedaan persepsi antara suami istri pasti sering terjadi, Jadi, kalau suami istri tak pernah mengkomunikasikannya, otomatis masing-masing akan berjalan dengan persepsinya sendiri sehingga tak pernah tercapai titik temunya. Bagaimana akibatnya, kita tentu sudah bisa membayangkan.

Selain komunikasi verbal, komunikasi non verbal juga diperlukan, karena dengan komunikasi ini kita dapat berbicara lebih dalam dari pada kalimat yang diucapkan. Misalnya, lewat pandangan, sentuhan, atau perbuatan. Jangan takut atau malu untuk menunjukkan harapan Anda pada pasangan dalam melakukan aktivitas seksual. Dengan menunjukkan dalam bentuk perbuatan, pasangan Anda akan mengerti lebih baik.

Kreatif

Anda harus kreatif dalam membangkitkan performa seks, tidak salah bila anda mencoba jamu kuat agar stamina tetap terjaga, jangan sampai kita terjebak pada persepsi bahwa seks itu hanya untuk kehamilan atau keturunan. Sehingga kalau sudah hamil dan punya anak, maka seks pun berhenti. Fungsi seks selain untuk prokreatif atau menghasilkan keturunan, juga untuk rekreatif. Namun rekreatif ini hendaknya jangan diartikan sempit hanya untuk kesenangan. Memang dalam rekreatif ada unsur kesenangan dan kenikmatannya, tapi juga untuk membuat kemesraan dan kebahagiaan. Dengan demikian, bisa memperkokoh kehidupan rumah tangganya.

Lakukan variasi

Seks yang sehat adalah seks yang alami, artinya tak harus ditentukan berapa kali sehari atau seminggu seperti orang minum obat saja. Kalau situasi dan kondisinya mengizinkan, ya, silakan dilakukan. Berapa banyak frekuensi juga tidak perlu dipaksakan, sesuai kebutuhan dan kemampuan saja.

Untuk menjaga keharmonisan rumah tangga Anda, bisa juga menggunakan produk herbal seperti jamu kuat tradisional yang mampu mencegah gangguan seks.