Erotophobia atau Ketakutan Dengan Hal Yang Berkaitan Dengan Seks

Seks merupakan salah satu kegiatan yang akan menjanjikan kesenangan, kenikmatan dan kepuasan terhadap pelakunya. Keinginan melakukan hubungan seks sendiri terkadang tidak bisa dibendung. Akibatnya, mereka para remaja yang mana masih dalam kondisi labil pun memiliki cara tersendiri untuk bisa memuaskan dirinya secara seksual. Namun sayang, tidak semua orang memiliki perasaan yang sama, bahkan ada beberapa orang yang memiliki ketakutan dengan hal yang berkaitan dengan seks (erotophobia).

Erotophobia sendiri merupakan salah satu fobia seksual, dimana penderitanya memiliki rasa takut yang mendalam terhadap aktivitas yang berkaitan dengan seks. Kebanyakan mereka penderita erotophobia lebih dominan membenci seks dan hal ini terjadi karena adanya faktor tertentu yang melatarbelakanginya.

Kebanyakan mereka penderita erotophobia menjadikan seks menjadi tabu, baik tindakan seperti masturbasi dan bahkan ketelanjangan. Mereka menganggap bahwa tindakan seksual yang dilakukan oleh setiap orang adalah salah satu tujuan prokreasi.

Ketakutan dengan seks sendiri merupakan salah satu kelaziman dari erotophobia. Sekilas ini tampak kontra-intuitif karena manusia memiliki keinginan yang alami untuk melakukan hubungan seks. Dari dulu hingga sekarang seks sudah dianggap sebagai salah satu aktivitas yang cukup menyenangkan, dimana pelakunya akan merasa puas, senang dan akan mendapatkan manfaat dari aktivitas yang dilakukannya tersebut, salah satunya adalah menghilangkan stres. Lalu mengapa terdapat kelompok yang takut dan benci dengan aktivitas seks ini?

Tentu saja terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi erotophobia. Adanya ketakutan pada diri seseorang bukan muncul dengan sendirinya dan tentu saja terdapat alasan tersendiri yang menjadikan penderita erotophobia takut dengan segala macam hal yang berkaitan dengan seks.

Jika dilihat dari kekuatan politik, erotophobia yang dialami oleh sebagian kelompok diakibatkan adanya peraturan-peraturan yang telah dibuat oleh pemerintahan negara. Beberapa kelompok memiliki insentif ekonomi yang memadai atau cukup jelas untuk mendominasi orang lain. Jika disederhanakan, mereka para pemerintah memiliki eksploitasi yang menguntungkan.

Pendirian organisasi atau politik yang akhir-akhir ini marak berkembang menyulitkan orang-orang yang berjiwa bebas dengan sukacita dalam kesenangan alami yang dirasakannya, termasuk dalam kesenangan seksual. Keinginan besar seseorang untuk bisa mendapatkan kesenangan seks tersebut akan terhalangi oleh mereka (pemerintah) yang ingin mengontrol masyarakat. Dan, adanya beberapa organisasi keagamaan sendiri juga menjadi pengaruh besar terjadinya erotophobia, karena mereka dengan sengaja memasukkan erotophobia ke dalam dogma mereka sehingga orang-orang kesulitan mendapatkan kesenangan seksual. Akibatnya, muncul rasa kebencian dalam diri yang pada akhirnya memicu pada erotophobia.

Sedangkan jika dilihat dari segi ketakutan akan bahaya, erotophobia yang dialami oleh beberapa kelompok dapat terjadi karena adanya rasa takut akan bahaya akibat melakukan aktivitas seks. Mungkin untuk satu alasan, beberapa orang beranggapan bawah dirinya akan selalu terancam dan akan menjadi korban kejahatan seksual.

Beberapa orang juga mungkin memiliki rasa takut akan bahaya penyakit menular seksual apabila dirinya melakukan hubungan seks. Dan, disisi lain adanya rasa takut dengan kehamilan juga menjadi tersangka utama yang mengakibatkan erotophobia.

Kendati orang-orang menginginkan untuk mendapatkan kesenangan seksual yang intens dan kompleks, namun tidak dengan mereka para penderita erotophobia. Bagi mereka, melakukan hubungan seksual yang aman dianggap sebagai salah satu perbuatan yang akan memperbesar risiko penularan penyakit menular dan risiko terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan.

Kebanyakan mereka penderita erotophobia merasa kesulitan untuk mempromosikan aktivitas seks yang lebih aman. Tanggapan atau penjelasan yang logis dan ilmiah pun akan mereka abaikan, karena ketakutan yang mereka rasakan sangat mendalam. Mungkin dengan memberikan penjelasan dan bimbingan terhadap penderita erotophobia akan membantu para penderita erotophobia agar tidak takut dengan aktivitas seksual.

Sejatinya, ketakutan yang dialami oleh penderita erotophobia adalah perasaan yang cukup logis dan masuk akal. Setiap orang bisa saja ingin melakukan hal yang sama (kecanduan) jika banyak terlibat oleh beberapa aktivitas seperti perjudian, memakan makan yang tidak sehat, bermain game dan juga berhubungan seks.

Beberapa rasa takut melakukan kegiatan atau aktivitas tersebut merupakan salah satu ketidakwajaran. Sejatinya kegiatan yang akan memberikan kita kesenangan dan kenikmatan saat melakukan adalah salah satu tindakan atau aktivitas yang tidak seharusnya kita takuti. Namun jika aktivitas tersebut berdampak pada efek samping atau dampak buruk terhadap diri kita, maka wajar bagi kita takut dengan aktivitas tersebut. Mereka para penderita erotophobia mulanya akan merasa takut dengan aktivitas yang wajar dan lambat laun ketakutan yang mereka rasakan akan menyebabkan erotophobia.

Dalam kasus lainnya, dimana terdapat kasus erotophobia yang disebabkan oleh pengalaman buruk akan kehidupan seksualnya. Kondisi ini mungkin masih terbilang logis dan dapat dimengerti. Sebagian orang mungkin mempunyai pengalaman buruk di masa lalunya, termasuk pengalaman buruk yang berkaitan dengan seksualitasnya.

Ketakutan akan obat kuat, ini bisa saja memicu terjadinya erotophobia. Dampak buruk akibat penggunaan obat-obatan semacam ini akan memberikan efek samping terhadap penggunanya, dimana pada akhirnya akan memicu pada pola pikirnya dan berakhir pada erotophobia.

Oleh karenanya dalam menjalani kehidupan ini setidaknya Anda harus memiliki keputusan yang tepat sebelum melakukan tindakan. Kebijakan dalam menentukan segala keputusan juga akan mempengaruhi kondisi Anda ke depannya. Penggunaan obat kuat seperti apa yang telah di jelaskan di atas sejatinya adalah salah satu tindakan yang wajar dan ini akan memberikan keuntungan bagi penggunanya, namun hanya karena kesalahan dalam memilih produk maka menimbulkan trauma khusus yang akan mempengaruhi pola pikirnya dan menjauhi segala aktivitas yang berkaitan dengan seks.